Sebut ‘Allahmu Lemah’, Bareskrim Tahan Ferdinand Hutahaean

Elektoral.id, Jakarta – Bareskrim Polri menahan penggiat media sosial Ferdinand Hutahaean setelah 20 jam diperiksa, Senin (10/1) dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan ujaran kebencian lewat unggahan di media sosial.

“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela,” tulis Ferdinand di akun Twitter pribadinya, Selasa (4/1).

Namun cuitan tersebut terhapus. Meski begitu, sejumlah warganet telah merekam lebih dulu tulisan Ferdinand itu dengan menuliskan tagar #TangkapFerdinand.

Setelah cuitan tersebut viral, Ferdinand kemudian meluruskan bahwa cuitannya itu merupakan dialog imajiner dan dalam kondisi tak sadarkan diri.

 

“Jadi pertama cuitan saya itu tidak sedang menyasar kelompok tertentu, agama tertentu, orang tertentu, atau kaum tertentu. Tapi dalam kondisi down kemarin, saya juga hampir pingsan,” ujarnya.

“Saya tidak perlu bercerita masalah saya apa. Tapi itu adalah dialog imajiner antara pikiran dan hati saya, bahwa ketika saya down, pikiran saya berkata kepada saya, ‘Hei, Ferdinand, kau akan hancur, Allahmu lemah tidak akan bisa membela kau, tapi hati saya berkata, oh tidak hey pikiran, Allahku kuat, tidak perlu dibela, saya harus kuatlah’. Kira-kira seperti itu intinya,” ia menuturkan.

Terpisah, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengungkapkan kasus tersebut naik dari penyelidikan ke penyidikan. Dengan naiknya status kasus, ada dugaan tindak pidana dalam kasus tersebut.

Polisi selanjutnya memanggil saksi-saksi termasuk saksi ahli. Total polisi sudah memeriksa 15 saksi hingga Jumat (7/11). “Terdiri dari lima saksi dan 10 saksi ahli,” kata Ramadhan kepada wartawan, Jumat (7/1).

Ramadhan menyebut kelima saksi ahli itu berasal dari berbagai agama. Mulai dari saksi ahli agama Islam, Kristen, hingga Buddha.

“Ada tambahan saksi ahli dari beberapa agama. Jadi saksi ahli agama Islam, saksi ahli agama Kristen, saksi ahli agama Katolik, saksi ahli agama Hindu, saksi agama Buddha,” ujarnya.

Penyidik menjerat Ferdinand dengan Pasal tentang membuat keonaran di masyarakat. “Pasal 14 ayat 1 dan 2 KUHP Undang-Undang No 1 tahun 1946, kemudian Pasal 45 ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 ancaman 10 tahun seluruhnya,” kata Ramadhan beberapa waktu lalu.

“Sementara tidak (pasal penodaan agama). Jadi pasalnya 14 ayat 1 dan ayat 2 peraturan hukum pidana, UU 1 tahun 1946,” ia menambahkan.

Bareskrim menahan Ferdinand hingga 20 hari ke depan. Ramadhan menambahkan hasil pemeriksaan, Ferdinand juga dinyatakan tak memiliki masalah psikis.

“(Ditahan) di rutan cabang Jakarta Pusat di Mabes Polri. Hasil pemeriksaan dokter dari Pusdokkes, layak untuk dilakukan penahanan,” katanya.

Alasan penahanan Ferdinand agar tersangka tidak melarikan diri, mengulangi perbuatannya dan menghilangan barang bukti. “Sedangkan alasan objektifnya, ancaman yang disangkakan kepada tersangka FH di atas lima tahun,”  Ramadhan menegaskan. (Imo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini