Dapat Tagihan Segunung dan Data Diretas, Seorang Jurnalis Jadi Korban Pemerasan Pinjol

Elektoral.id, Bali – Seorang jurnalis wanita RW (29) mendapat pengalaman pahit menjadi korban dugaan penipuan dan penggelapan dari layanan jasa keuangan berkedok konsultan fidusia Bali Dewata Fintech Center (BAFI Group).

RW mengaku awalnya mendapat tagihan sebesar Rp 360.144 dari aplikasi pinjaman online (pinjol). Ia pun berupaya tutup lubang gali lubang dengan memgajukan pinjaman lagi ke aplikasi Go Pinjam sebesar Rp 4,6 juta dengan cicilan Rp 1,6 juta per bulan.

“Tapi situasi menjadi rumit ketika peminjam diingatkan untuk melunasi tagihan sebesar Rp 1.600.000 di aplikasi Go Pinjam,” ujar RW kepada wartawan, Kamis (25/1).

Dalam upaya untuk menemukan solusi, RW melihat iklan informasi di TikTok dan Instagram yang menawarkan jasa lepas pinjol. Korban tergiur karena tak ada pilihan lain dengan menanyakan akun instagram Infinity Grup.

“Tapi sempat ada kendala (pengajuan) ditolak dengan alasan domisili berbeda dengan KTP,” ucapnya.

RW kemudian direkomendasikan oleh Ketua Infinity Group berinisial YN untuk menghubungi BAFI Group yang dipimpin Tian Batubara alias TNB. Setelah berkonsultasi, RW diminta datang ke kantor BAFI Group di Perumahan Griya Blok OO No 28, Jalan Benoa, Kuta Selatan, Badung.

RW menceritakan keluhannya kepada TNB mengenai pinjaman dan bunga yang terus meningkat. TNB pun menjanjikan solusi dengan menggunakan jasa yang ditawarkan. “Udah kamu tenang aja saya selesain disini ya, untung kamu langsung kesini. Jadi enggaknperlu khawatir lagi kamunya ya. Aman enggak akan kesebar datamu, saya liat dulu coba pinjaman hapemu,” kata RW yang menirukan gaya bicara TNB.

Setelah mengikuti prosedur TNB, RW terkejut mengalami kehilangan dana Rp 3.5 juta dari limit paylater yang digunakan untuk pembelian drone oleh pihak BAFI Group. Padahal, TNB telag berjanji akan membantu korban tanpa dikenakan biaya. RW pun sadar bahwa uang yang dijanjikan itu diambil dari lubang lainnya.

RW tersadar bahwa TNB menggunakan datanya untuk pinjaman baru guna menutupi hutang korban dengan senilai Rp 5,2 juta. Alih-alih membantu, namun data korban digunakan untuk membuka akun pinjol baru dengan dalih TNB untuk membantu keuangan korban.

“Udah enggak perlu khawatir ya, nanti uangnya buat ngebantu kamu, gausah perlu kamu bayar lagi semua tagihan itu karena udah saya seeting dan dihapus semua akun pinjamanmu,” RW menuturkan.

RW mengaku aksi TNB tidak sampai di situ, TNB meminta uang Rp 2,7 juta setelah memberikan uang Rp 5,2 juta dari pengajuan pinjol tadi. Sayangnya korban harus kehilangan paylater-nya Rp 3,5 juta karena TNB diduga meretas semua akun pribadi RW. “Saya sudah meminta (ke TNB) untuk saldonya dikembalikan, sebab saya merasa sudah berikan uang sebesar Rp 2,7 juta,” tandas RW.

Bukannya memenuhi janjinya, TN dan tim BAFI Group menekan RW secara psikologis dengan ancaman denda 15 persen jika limit Shoppee paylater-nya ingin kembali sekaligus meminta uang Rp 525 ribu dengan jaminan data pribadi kembali. RW merasa terjebak dalam situasi sulit, maka melaporkan kasus ini ke Direskrimum Polda Bali.

RW menambahkan berhubung data pribadi telah diambil alih dan diakses oleh pihak BAFI Group, saat ini masih dalam penelusuran lebih lanjut setelah dikeluarkannya surat somasi dari polisi kepada BAFI Group

Kabid Humas Polda Bali Kombes Jansen Avitus Panjaitan mengatakan pihaknya masih menunggu penjelasan dari Ditreskrimum Polda Bali yang menangani. “Perkembangan kasus langsung ke penyidiknya. Nanti coba saya konfirmasikan,” Jansen menandaskan. (Imo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini